PENTINGNYA
SANTRI DI ERA MILENIAL
Di
saat ini yang sudah masuk ke era globalisasi bahkan dalam pesatnya perkembangan
teknologi, yang menunjukkan semakin mudahnya seseorang mendapatkan apa yang
diinginkannya. Sehingga timbul pola hidup instan yang kadang jika diteruskan
bisa memberikan dampak negatif pada diri orang itu. Hal ini dapat diantisipasi
dengan penanaman karakter sejak dini dan penguatan intelektual para penerus
bangsa kita, yaitu pemuda pemudi kita.
Dalam
antisipasi dampak negatif dari perkembangan teknologi di era globalisasidapat
dilihat dari banyaknya sekolahan, lembaga – lembaga pendidikan baik formal
maupun nonformal yang sudah mulai menanamkan pembiasaan karakter yang diimbangi
dengan pemberian bahan pembelajaran yang sesuai dengan budaya dan falsafah
bangsa, serta tak bertentangan dengan ajaran agama.
Salah satu contoh kecil di
inndonesia sudah diterapkan kurikulum yang lebih menekankan pada pada penanaman
karakter yang luhur pada peserta didik, mulai dari sikap jujur, optimis, rendah
hati, toleransi dan lain- lain. Penanaman karakter tersebut diterapkan dalam
sistem pembelajaran di negara kita, sehingga hal itu cukup mengurangi dampak
negatif dari globalisasi.
Meski
begitu, antisipasi yang dilakukan di lingkungan sekolah itu masih kurang padahal
kita hidup di lingkungan keluarga, sekolahan dan masyarakat/ pergaulan
sosialisasi. Mungkin mungkin jika di rumah atau keluarga sudah dapat ditanamkan
dan dibiasakan oleh orang tua. Jika di sekolahan telah dilatih dalam sistem
pendidikan yang ada, sedangkan di masyarakat/ lingkungan pergaulan(sosialisasi)
lebih rawan terkena dampak negatif globalisasi. Untuk menyikapi hal ini, dapat
ditepis dengan memondokkkan anak / memasukkan anak ke lingkungan pesantren.
Jika seseorang di pondok (mondok), maka ia akan lebih terjaga dari dampak
negatif globalisasi, sebab selain disekolahan ditanamkan karakter yang luhur,
di pondok juga ditambahi pembiasaan serta pengamalan nilai – nilai kehidupan
yang sesuai dengan ajaran islam. Jadi hati akan lebih tenang akan antisipasi
dari dampak negatif globalisasi.
Mondok
mungkin jadi salah satu opsi alternatif yang bisa dijadikan salah satu cara
antisipasi dampak negatif globalisasi. Tapi masih banyak orang – orang awam
yang merasa jiaka mondok itu kampungan, kurang berwawasan, dan berbagai
persepsi buruk lainnya tentang mondok. Tapi sebenarnya mondok itu salah satu
cara membentuk generasi bangsa yang berakhlaqul karimah dan berpendidikan.
Kalau kita menengok pada sejarah bangsa kita ,
banyak sekali tokoh – tokoh bangsa , pahlawan – pahlawan, serta orang – orang
hebat bangsa kita lulusan dari pondok pesantren yang awalnya menjadi santri
kemudian menjadi orang – orang hebat. Contoh saja kita kenal almarhum KH.
Abdurrahman Wahid yang kita akrab panggil Gus Dur, yang merupakan lulusan
pondol pesantren tebu ireng . R.A. Kartini pahlawan yang memperjuangkan hak –
hak wanita, merupakan santri dari Mbah Sholeh Darat. KH Hasyim Asy’ari pendiri
Nahdhotul Ulama’ dan juga pahlawan nasional yang merupakan pendiri pondok tebu
ireng jombang. Semua tokoh – tokoh tersebut kehidupannya tak jauh dari
lingkungan pondok pesantren yang kental akan pembiasaan akhlaqul karimah dan
pembelajaran ilmu – ilmu agama yang menjadikan mereka sukses di kemudian hari,
juga berkat do’a dan ridho dari guru mereka yang selalu dihormati.
Inilah bukti nyata jika peran santri
sangat dibutuhkan di saat ini. Santri ialah kader – kader bangsa yang
berkualitas dari segi akhlaq/ moral dan berkualitas dari segi intelektual. Jadi
para santri seharusnya bangga akan dirinya, bukannya malu ia jadi santri. Sebab
di era ini yang sudah mulai rusaknya moral pemuda – pemuda bangsa , yang bisa
mengembalikan memperbaiki hal ini ialah dari diri sendiri , maukah kita berubah
menjadi lebih bermoral / berakhlaq lewat jalur menjadi santri, dalam artian
santri yang sesungguhnya , yang benar benar hidup atau berkeseharian sesuai
dengan ajaran islam. Bukan orang yang mengaku jadi santri tapi dalam
kesehariannya ia masih suka berbuat kebathilan dan kerusakan pada yang lain.
Santri yang sebenarnya ialah sebaik – baiknya manusia, yang selalu memberikan
manfaat pada yang lain, bukan yang
selalu memberikan madhorot pada yang lain.

