Naruto Uzumaki Running
Our social:

Friday, 9 March 2018


PENTINGNYA SANTRI DI ERA MILENIAL

Di saat ini yang sudah masuk ke era globalisasi bahkan dalam pesatnya perkembangan teknologi, yang menunjukkan semakin mudahnya seseorang mendapatkan apa yang diinginkannya. Sehingga timbul pola hidup instan yang kadang jika diteruskan bisa memberikan dampak negatif pada diri orang itu. Hal ini dapat diantisipasi dengan penanaman karakter sejak dini dan penguatan intelektual para penerus bangsa kita, yaitu pemuda pemudi kita.
Dalam antisipasi dampak negatif dari perkembangan teknologi di era globalisasidapat dilihat dari banyaknya sekolahan, lembaga – lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal yang sudah mulai menanamkan pembiasaan karakter yang diimbangi dengan pemberian bahan pembelajaran yang sesuai dengan budaya dan falsafah bangsa, serta tak bertentangan dengan ajaran agama.
            Salah satu contoh kecil di inndonesia sudah diterapkan kurikulum yang lebih menekankan pada pada penanaman karakter yang luhur pada peserta didik, mulai dari sikap jujur, optimis, rendah hati, toleransi dan lain- lain. Penanaman karakter tersebut diterapkan dalam sistem pembelajaran di negara kita, sehingga hal itu cukup mengurangi dampak negatif dari globalisasi.
Meski begitu, antisipasi yang dilakukan di lingkungan sekolah itu masih kurang padahal kita hidup di lingkungan keluarga, sekolahan dan masyarakat/ pergaulan sosialisasi. Mungkin mungkin jika di rumah atau keluarga sudah dapat ditanamkan dan dibiasakan oleh orang tua. Jika di sekolahan telah dilatih dalam sistem pendidikan yang ada, sedangkan di masyarakat/ lingkungan pergaulan(sosialisasi) lebih rawan terkena dampak negatif globalisasi. Untuk menyikapi hal ini, dapat ditepis dengan memondokkkan anak / memasukkan anak ke lingkungan pesantren. Jika seseorang di pondok (mondok), maka ia akan lebih terjaga dari dampak negatif globalisasi, sebab selain disekolahan ditanamkan karakter yang luhur, di pondok juga ditambahi pembiasaan serta pengamalan nilai – nilai kehidupan yang sesuai dengan ajaran islam. Jadi hati akan lebih tenang akan antisipasi dari dampak negatif globalisasi.
Mondok mungkin jadi salah satu opsi alternatif yang bisa dijadikan salah satu cara antisipasi dampak negatif globalisasi. Tapi masih banyak orang – orang awam yang merasa jiaka mondok itu kampungan, kurang berwawasan, dan berbagai persepsi buruk lainnya tentang mondok. Tapi sebenarnya mondok itu salah satu cara membentuk generasi bangsa yang berakhlaqul karimah dan berpendidikan.
             Kalau kita menengok pada sejarah bangsa kita , banyak sekali tokoh – tokoh bangsa , pahlawan – pahlawan, serta orang – orang hebat bangsa kita lulusan dari pondok pesantren yang awalnya menjadi santri kemudian menjadi orang – orang hebat. Contoh saja kita kenal almarhum KH. Abdurrahman Wahid yang kita akrab panggil Gus Dur, yang merupakan lulusan pondol pesantren tebu ireng . R.A. Kartini pahlawan yang memperjuangkan hak – hak wanita, merupakan santri dari Mbah Sholeh Darat. KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdhotul Ulama’ dan juga pahlawan nasional yang merupakan pendiri pondok tebu ireng jombang. Semua tokoh – tokoh tersebut kehidupannya tak jauh dari lingkungan pondok pesantren yang kental akan pembiasaan akhlaqul karimah dan pembelajaran ilmu – ilmu agama yang menjadikan mereka sukses di kemudian hari, juga berkat do’a dan ridho dari guru mereka yang selalu dihormati.
            Inilah bukti nyata jika peran santri sangat dibutuhkan di saat ini. Santri ialah kader – kader bangsa yang berkualitas dari segi akhlaq/ moral dan berkualitas dari segi intelektual. Jadi para santri seharusnya bangga akan dirinya, bukannya malu ia jadi santri. Sebab di era ini yang sudah mulai rusaknya moral pemuda – pemuda bangsa , yang bisa mengembalikan memperbaiki hal ini ialah dari diri sendiri , maukah kita berubah menjadi lebih bermoral / berakhlaq lewat jalur menjadi santri, dalam artian santri yang sesungguhnya , yang benar benar hidup atau berkeseharian sesuai dengan ajaran islam. Bukan orang yang mengaku jadi santri tapi dalam kesehariannya ia masih suka berbuat kebathilan dan kerusakan pada yang lain. Santri yang sebenarnya ialah sebaik – baiknya manusia, yang selalu memberikan manfaat pada yang lain,  bukan yang selalu memberikan madhorot pada yang lain.       

0 comments:

Post a Comment